SELAMAT DATANG DI BLOG ARDI SETIA

Selasa, 26 November 2013

Sejarah Sastra: Angkatan 66

Sastra Angkatan '66
Angkatan ini ditandai dengan terbitnya majalah sastra Horison. Angkatan ’66 lahir karena adanya peristiwa sejarah Indonesia, tokohnya adalah Taufik Ismail. Tahun 1953 di Amsterdam diadakan simposium tentang kesusastraan Indonesia. Untuk pertama kalinya dibicarakan kemacetan dan krisis sastra Indonesia. Pembicaraan menjadi ramai ketika majalah Konfrontasi di pertengehan 1954 memuat esai Soejatmoko yang berjudul “Mengapa Konfrontasi”. Soejatmoko melihat adanya krisis sastra sebagai akibat dari krisis kepemimpinan politik. Krisis tersebut terjadi karena yang ditulis hanya cerpen kecil yang bercerita sekitar psikologis perseorangan saja. Roman besar tak pernah ditulis.

Salah satu alasan utama terjadinya krisis sastra Indonesia itu karena kurangnya jumlah buku yang terbit. Karenanya sastra hanya terdapat dalam majalah.

Menurut Pradopo (1990: 10)waktu itu berkembang puisi epik yang terkenal dengan balada. Masih menurut Pradopo saat itu untuk dunia puisi memiliki ciri:

1. Bergaya epik (bercerita)
2. Gaya slogan
3. Retorik makin berkembang

Dilihat dari segi ekstrinsik sajak-sajak tadi mengungkapkan masalah sosial kemiskinan, pengangguran, perbedaan kaya dan miskin dan belum adanya pemerataan kenikmatan hidup.

Menurut Jassin pun ada pula memberi ciri-ciri ‘Angkatan 66’, yaitu antara lain:
1. Konsepsinya pancasila.
2. Membawa kesadaran murni manusia yang bertahun-tahun mengalami kezaliman dan perkosaan terhadap kebenaran dan rasa keadilan, kesadaran moral dan agama. Khas pada hasil-hasil kesusastraan ‘66’ ialah protes sosial dan kemudian protes politik.
3. Yang termasuk angkatan ‘66’ ialah: ‘Mereka yang tatkala tahun 1945 berumur 25 tahun”. 

Tokoh pada angkatan ‘66 adalah Taufik Ismail. Taufik Ismail dilahirkan di Bukittinggi, 25 Juni 1937, lulusan Fakultas Kedokteran Hewan UI, redaktur senior Horison. Penerima Anugerah Seni dari pemerintah RI tahun 1970 dan Sastra ASEAN tahun 1994 ini telah berjasa besar dalam memasyarakatkan, mengembangkan dan memajukan sastra Indonesia bersama tokoh-tokoh lain. Karena jasa-jasanya dan prestasinya, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) memberinya gelar Doktor Honoris Causa dalam bidang sastra.

Taufiq Ismail adalah pelopor puisi-puisi demonstrasi. Puisi-puisinya adalah puisi demonstrasi yang mengungkapkan tuntutan membela keadilan dan kebenaran. Puisinya adalah protes sosial menentang tirani dan rezim seratus mentri. Puisi Taufiq Ismail menandakan suatu kebangkitan Angkatan 66 dalam dunia perpuisian di Indonesia. Puisi-puisinya kebanyakan bersifat naratif dan prosais. Puisi-puisi demontrasi kebanyakan sangat prosais dan diafan.

Pengarang-pengarang angkatan ‘66 dan hasil karyanya antara lain:

Penyajak: 1. Taufik Ismail
Hasil karya : Tirani dan Benteng

2. Goenawan Mohammad
Hasil karya : Lagu pekerja malam
Hari terakhir seoang penyair

3. Mansur Samin
Hasil karya : Perlawanan

4. Harjoto Handajaya
Hasil karya : Buat Saudara Kandung
Perarahan Jenazah
Riwayat
Pantun Tidak Bernama

Pengarang prosa:
1. Bur Rasuanto
Hasil karya : Bumi yang Berpeluh (cerpen)
Mereka akan Bangki (cerpen)

2. A. Bastari Asnin
Hasil karya : Di tengah padang (kumpulan cerpen)

3. Yusach Ananda
Hasil karya : Kampungku yang sunyi (cerpen)

Pengarang-pengarang wanita angkatan ’66
1. Titi Said
Hasil karya : perjuangan dan hati perempuan (kumpulan cerpen)

2. Titis Basino
Hasil karya : Rumah Dara (cerpen)
Laki-laki dan Cinta (cerpen)

3. S. Tjahyaningsih
Hasil karya : Dua Kerinduan

2 komentar:


Printfriendly