SELAMAT DATANG DI BLOG ARDI SETIA
Tampilkan postingan dengan label Sosiolinguistik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosiolinguistik. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 November 2013

Sosiolinguistik: Variasi Bahasa

Variasi Bahasa 

1. Segi penutur 
a. Idiolek bersifat perseorangan, individu
(warna suara, pilihan kata, gaya bahasa, struktur kalimat)
Contoh = Kita dapat mengenali seseorang dengan mengenal jenis/warna suaranya tanpa melihat atau bertatapan langsung dengan orang tersebut. 

b. Dialek sekelompok penutur yang jumlahnya reatif, berada pada suatu tempat, wilayah, atau area tertentu
(dialek areal, dialek regional, dialek geografi)
Contoh = bahasa Jawa dialek Tegal memiliki ciri tersendiri yang berbeda dengan ciri yang dimiliki bahasa Jawa Semarang, Jepara. 

c. Kronolek kelompok sosial pada masa tertentu
contoh = 
Bahasa th 1930
Bahasa th 1945
Bahasa tahun 1990
Bahasa tahun 2000
Bahasa tahun 2010

d. Sosiolek status, golongan, kelas sosial para penuturnya
menyangkut masalah pribadi penuturnya (usia, pendidikan, seks, pekerjaan, tingkat kebangsawanan, keadaan sosial ekonomi)
1) usia
(kanak-kanak, remaja, orang dewasa)
perbedaan: morfologi, sintaksis 

2) Pendidikan
tidak menempuh pendidikan (tidak sekolah)
sekolah (SD, SMP, SMA, PT)
perbedannya: kosakata, pelafalan, morfologi

3) Seks (jenis kelamin)
Laki-laki dan perempuan 
contoh = percakapan ibu-ibu X percakapan remaja
Waria, gay 
contoh = akika, endang, mawar

4) Pekerjaan buruh 
Pedagang, Pengemudi, Guru, Mubalig, Pengusaha 
perbedaan: lingkungan kerja, kosa kata yang digunakan  

5) Tingkat kebangsawanan 
bahasa Jawa, bahasa Bali, bahasa Sunda mengenal variasi ini, tetapi bahasa Indonesia tidak. 
Contoh :
Orang biasa: tidur, mandi, mati
Bahasa raja-raja: beradu, bersiram, mangkat 

2. Variasi bahasa berkaitan dengan tingkat, golongan status, dan kelas sosial para penuturnya
1)Akrolek
= variasi sosial lebih tinggi/bergengsi daripada variasi sosial lainnya.
Contoh = dialek Jakarta X dialek daaerah

2) Basilek = variasi sosial yang dianggap kurang bergengsi/rendah.
Contoh = tuturan kaum buruh/petani

3) Vulgar = variasi sosial yang ciri-cirinya tampak kurang terpelajar/tidak berpendidikan.
Contoh = tuturan anak jalanan, tuturan orang terminal

4) Slang = variasi sosial yang bersifat khusus dan rahasia. digunakan kalangan tertentu yang sangat terbatas. Dan terkadang berubah-ubah.
Contoh = kalangan pencopet, daun = uang

5) Kolokial = variasi sosial yang digunakan sehari-hari/ bahasa sehari-hari.
Contoh = dok, prof, let, ndak tahu, nggak

Sosiolinguistik: Peristiwa Tutur

PERISTIWA TUTUR

Peristiwa tutur adalah terjadinya atau berlangsungnya interaksi linguistik dalam satu bentuk ujaran atau lebih yang melibatkan dua pihak yaitu penutur dan lawan tutur dengan satu pokok tuturan, di dalam waktu, tempat, dan situasi tertentu.

SPEAKING
S = SETTING AND SCENE 
P = PARTICIPANTS 
E = ENDS 
A = ACT SEQUENCE
K = KEY 
I = INSTRUMENTALITIES 
N = NORM OF INTERACTION AND INTERPRETATION 
G = GENRE

Sosiolinguistik: Bahasa dan Masyarakat

BAHASA DAN MASYARAKAT
1. BAHASA DAN TUTUR
2. VERBAL REPERTOIR
3. MASYARAKAT TUTUR

1. BAHASA DAN TUTUR 
Ferdinand de Sausure (1916) membedakan Langage, lengue, dan parole (Bahasa Prancis)
Bahasa Indonesia = bahasa
Langage = bahasa sebagai sistem lambang bunyi yang digunakan manusia untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara verbal diantara sesamanya (abstrak)
Langue = dimaksudkan sebagai sebuah sistem lambang bunyi yang digunakan oleh sekelompok anggota masyarakat tertentu untuk berkomunikasi dan berinteraksi sesamanya. Langue mengacu pada sebuah sistem lambang bunyi tertentu (abstrak)
Langue maupun langage = suatu sistem pola, keberaturan, kaidah yang ada atau dimiliki manusia tetapi tidak nyata-nyata digunakan
Parole (konkret) = merupakan pelaksanaan dari langue dalam bentuk ujaran atau tuturan yang dilakukan oleh para anggota masyarakat di dalam berinteraksi atau berkomunikasi sesamanya.
Objek kajian studi linguistik adalah langue tetapi dilakukan melalui parole (parole dapat diobservasi secara empiris. 

2. VERBAL REPERTOIR (REPERTOIR BAHASA) 
Semua bahasa beserta ragam-ragamnya yang dimiliki atau dikuasai seorang penutur biasa disebut repertoir bahasa
Kemampuan komunikatif yang dimiliki individu maupun kelompok disebut verbal repertoire. Jadi verbal repertoire dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu verbal repertoire yang dimiliki individu dan yang dimiliki masyarakat.

Verbal repertoir ada dua macam:
1. Yang dimiliki setiap penutur secara individual.
Mengacu pada alat-alat verbal yang dikuasai penutur
2. Yang merupakan milik masyarakat tutur secara keselruhan.
Mengacu pada keseluruhan alat-alat verbal yang ada di dalam suatu masyarakat

Kajian yang mempelajari penggunaan bahasa sebagai sistem interaksi verbal di antara para penuturnya di dalam masyarakat disebut sosiolinguistik interaksional (sosiolinguistik mikro).
Kajian mengenai penggunaan bahasa dalam hubungannya dengan adanya ciri-ciri linguistik di dalam masyarakat disebut sosiolinguistik korelasional (sosiolinguistik makro). 

3. MASYARAKAT TUTUR/ MASYARAKAT BAHASA
Bahasa merupakan salah satu alat untuk mengadakan interaksi terhadap manusia yang lain. Jadi bahasa tersebut tidak dapat dipisahkan dengan manusia. Dengan adanya bahasa kita kita dapat berhubungan dengan masyarakat lain yang akhirnya melahirkan komunikasi dalam masyarakat.
Jika kelompok orang atau suatu masyarakat mempunyai verbal repertoir yang relatif sama serta mempunyai penilaian yang sama terhadap norma-norma pemakaian bahasa yang digunakan di dalam masyarakat itu, maka disebut masyarakat tutur.
Untuk dapat disebut masyarakat tutur adalah adanya perasaan di antara para penuturnya, bahwa mereka merasa menggunakan tutur yang sama.
Fishman (1976) menyebut masyarakat tutur adalah suatu masyarakat yang anggota-anggotanya setidak-tidaknya mengenal satu variasi bahasa beserta norma-norma yang sesuai dengan penggunaannya.
Di dalam kehidupan masyarakat fungsi bahasa secara tradisional dapat dikatakan sebagai alat komunikasi verbal yang digunakan oleh masyarakat untuk berkomunikasi. Akan tetapi, fungsi bahasa tidak hanya semata-mata sebagai alat komunikasi. Bagi Sosiolinguistik konsep bahasa adalah alat yang fungsinya menyampaikan pikiran saja dianggap terlalu sempit.
Chaer (2004:15) berpendapat bahwa fungsi yang menjadi persoalan Sosiolingustik adalah dari segi penutur, pendengar, topik, kode, dan amanat pembicaraan. Maksud dari pernyataan tersebut pada intinya bahwa fungsi bahasa akan berbeda apabila ditinjau dari sudut pandang yang berbeda sebagaimana yang telah disebutkan di atas.

Berdasarkan verbal repertoire yang dimiliki oleh masyarakat, masyarakat bahasa dibedakan menjadi tiga, yaitu
a. Masyarakat monolingual (satu bahasa)
b. masyarakat bilingual (dua bahasa)
c. masyarakat multilingual (lebih dari 2 bahasa)

Jika suatu masyarakat memiliki verbal repertoire yang relatif sama dan memiliki penilaian yang sama terhadap pemakaian bahasa yang digunakan dalam masyarakat disebut masyarakat bahasa.

Sosiolinguistik: Hubungan Linguistik dan Sosiolinguistik

Hubungan Linguistik dan Sosiolinguistik
Sosiolinguistik jika ditinjau dari segi bahasa maka ilmu antardisiplin, yaitu sosiologi dan linguistik yang merupakan dua bidang ilmu yang berkaitan erat Sosiolinguistik adalah cabang linguistik yang mengkaji hubungan antara bahasa dan masyarakat penuturnya. Ilmu ini merupakan kajian kontekstual terhadap variasi penggunaan bahasa masyarakat dalam sebuah komunikasi yang alami. Variasi dalam kajian ini merupakan masalah pokok yang dipengaruhi atau mempengaruhi perbedaan aspek sosiokultural dalam masyarakat. Kelahiran Sosiolinguistik merupakan buah dari perdebatan panjang dan melelahkan dari berbagai generasi dan aliran.

Puncak ketidakpuasan kaum yang kemudian menamakan diri sosiolinguis ini sangat dirasakan ketika aliran Transformasional yang dipelopori Chomsky tidak mengakui realitas sosial yang sangat heterogen dalam masyarakat. Oleh Chomsky dan pengikutnya ini, heterogenitas berupa status sosial yang berbeda, umur, jenis kelamin, latar belakang suku bangsa, pendidikan, dan sebagainya diabaikan sebagai faktor yang sangat berpengaruh dalam menentukan pilihan-pilihan berbahasa. Berpijak dari paradigma ini Sosiolinguistik berkembang ke arah studi yang memandang bahwa bahasa tidak dapat dijelaskan secara memuaskan tanpa melibatkan aspek-aspek sosial yang mencirikan masyarakat.

Hubungan antara Sosiologi dan Linguistik, mempuinyai peranan yang sama-sama mendukung. Di satu sisi Linguistik dibuthkan untuk meneliti perkembangan bahasa di masyarakat, dan disisi lain Sosiologi dibutuhkan untuk meniliti berbagai macam fenomena kehidupan masyarakat yang berjaitan dengan kehidupan bahasa. Oleh karena itu lahirlah Cabang ilmu Sisiolinguistik untuk meneliti hal tersebut.

Jika merunut pada berbagai ilmu yang diterapkan pada sosiolinguistik, maka dapat disimpulkan bahwa sosiologi dan linguistik membentuk sebuah hubungan yang saling mendukung satu sama lain. Di satu sisi linguistik diperlukan untuk mendukung penelitian sosiologi dan juga sebaliknya.

Printfriendly